Minggu, 10 Desember 2017

7 Pamali Teraneh Dari Negara Maju



Pergeseran zaman tidak begitu saja mematahkan pantangan dan tradisi unik yang sudah berlangsung selama puluhan tahun, atau yang lebih kita kenal dengan sebutan pamali. Tidak perduli bagaimana negara itu begitu majunya dan berkawan akrab dengan teknologi canggih. Demikian pula dengan 7 pamali berikut ini yang justru dipercaya oleh negara-negara maju.

1.    Pindah Jangan Bawa Cermin!

Pernah menonton film Oculus, film horor besutan hollywood yang dibintangi artis cantik Karen Gillan? Film ini seperti mempertegas pamali orang Amerika untuk tidak membawa cermin ketika pindah rumah. Mengapa demikian? Konon cermin hanya akan membawa serta ruh-ruh jahat dari tempat tinggal yang lama.
2.    Meludah atau Menepuk Kepala

Di Rusia, ketika sedang membicarakan hal-hal yang baik, tiba-tiba kita menemukan lawan bicara kita meludah atau mengetuk kepala dengan kayu atau tangan , jangan salah paham dulu! Hal itu dilakukan mereka agar hal-hal baik yang tengah dibicarakan tidak berbuah kesialan.
3.    Jangan Jalan-Jalan Di Deoksugung

Buat kalian yang sedang liburan di Korea bersama pasangan, hindari berjalan-jalan di sekitar dinding luar Deoksugung, istana di pusat kota Seoul di seberang balai kota dan Seoul Plaza, konon katanya bisa membuat kalian berdua putus. Usut-punya usut, ternyata di ujung jalan itu ada pengadilan keluarga Seoul, atau dalam bahasa kita pengadilan agama tempat pasangan mengurus perceraian
4.    Jangan Menyuguhkan Kue Berjumlah 4 Potong

Beberapa gedung bertingkat di Jepang, dengan sengaja melewatkan lantai 4. Tidak hanya itu, orang Jepang juga pantang menyuguhkan kue berjumlah 4 potong, terutama untuk tamu. Angka 4 di Jepang selain dibaca yon, juga dibaca shi yang artinya kematian.
5.    Menyeruput Mie Tanpa Memotong

 Di Tiongkok, jika menyantap mie dianjurkan dengan cara menyeruput langsung tanpa memotong. Mengapa demikian? Karena dipercaya semakin panjang mie yang diseruput akan memperpanjang umur seseorang.
6.    Jangan Pecahkan Kaca

Di Jerman, jika ada yang memecahkan gelas atau keramik justru membawa keberuntungan. Tapi jangan sekali-kali memecahkan cermin dengan atau tanpa disengaja. Mereka yang memecahkan cermin di Jermin dipercaya akan mengalami kesialan selama 7 tahun.
7.    Jangan Taruh Kunci Di Meja

Di negeri asal Alfred Nobel, Swedia jangan sekali-kali menaruh kunci di atas meja karena dipercaya akan mengundang maling masuk rumah. Jadi simpan baik-baik kuncimu di saku, dompet atau tempat tersembunyi lainnya, terutama jika kamu berada di tempat umum.
 

9 Fakta Unik Universitas Negeri Malang, Yang Ngaku Anak UM Wajib Tahu



Sempat menempuh kuliah di UM selama 4 tahun, Ime mau merangkum fakta-fakta unik dari kampus yang sudah memberi Ime gelar S.Pd ini. Fakta-fakta yang cukup membanggakan, sekaligus mencengangkan tapi cukup layak untuk diketahui terutama buat kalian adek" lulusan SMA yang berencana mau ngelanjutin kuliah di UM. Nah, buat kalian para alumni ulasan ini bakal jadi nostalgia yang bakal bikin kamu mengerucutkan mulut sambil bilang: ooohhhh ... 
Penasaran???

1.    UM Adalah Kampus Tertua 

Cikal bakal berdirinya UM adalah Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) yang diresmikan Menteri Pendidikan Pengajaran Dan Kebudayaan RI, Prof. Mr. Mohammad Yamin pada tanggal 18 Oktober 1954. Nama UM sendiri baru resmi disandang pada pertengahan tahun 1999 setelah sebelumnya dari tahun 1963 publik lebih mengenalnya dengan IKIP Malang. Dibandingkan kampus negeri tetangganya, UNIBRAW (Universitas Brawijaya) yang baru berdiri di tahun 1963 dan menyusul di belakangnya UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) di tahun 1964, UM jelas yang tertua. Demikian pula jika dibandingkan dengan 62 perguruan tinggi lainnya yang ada di Kota Malang, predikat sebagai kampus pelopor jelas masih disandang UM.
2.    Letak UM Yang Strategis

Letak kampus induk UM begitu strategis dan berada di pusat area dunia pendidikan. Dari arah barat laut, UM bertetangga dekat dengan UMM kampus 2, UNIBRAW, ITN kampus 1, SMUN 4 dan SMPN 8 Malang. Sementara dari arah tenggara, ada Universitas Widya Karya dan SMA Dempo. Dari arah timur ada kampus Wearnes dan MAN 3 Malang yang menambah kesempatan bagi mahasiswa UM untuk menambah relasi dari berbagai kalangan dunia pendidikan. Dan satu lagi yang membuat letak UM makin strategis, adalah dibangunnya Mall Matos di tahun 2005 yang awal berdirinya sempat ditentang.
3.    UM Punya 3 Kampus


Dalam perkembangannya UM punya 3 kampus. Pertama kampus induk di Jalan Semarang No 5 Malang, yang kedua kampus Sawojajar di Jalan Ki Ageng Gribig 45 Kedungkandang Malang, dan yang terakhir kampus 3 di Jalan Ir Soekarno, Kota Blitar yang dikhususkan untuk jurusan PGSD dan PG PAUD.
4.    Tiga Pintu Gerbang Yang Bikin Rancu

Awal kampus ini berdiri, pintu gerbang utamanya memang berada di Jalan Semarang seperti sekarang. Namun setidaknya sampai tahun 2010, pintu gerbang utama adalah di Jalan Surabaya 6 Malang, hal ini tentu menguntungkan bagi mereka yang nge kos di Jalan Surabaya, Terusan Surabaya, Sidoarjo dan Jombang. Ironisnya tidak sedikit dari masyarakat Malang dan sopir angkot yang menduga bahwa pintu gerbang UM sebenarnya di Jalan Veteran.
5.    Peringkat UM


Klasifikasi dan pemeringkatan perguruan tinggi di Indonesia menempatkan Universitas Negeri Malang di peringkat ke 13 dari 3320 perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Peringkat ini berdasarkan kualitas SDM, manajemen, kegiatan mahasiswa, kualitas penelitian dan publikasi. Posisi UM berada setingkat lebih tinggi dari seniornya Universitas Negeri Jogya (UNY) di posisi 14, dan mengalahkan pesaing utamanya di Jawa Timur, Universitas Negeri Surabaya (UNESA) di posisi 21 dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di posisi 26. Sementara di level dunia, Universitas Eks IKIP Malang ini berhasil menempatkan diri di posisi 1256, sekali lagi mengalahkan seniornya UNY di posisi 3135 dan UPI di posisi 2298.
6.    Warna Jas Almamater Yang Kurang Identik

Warna jas almamater UM adalah dongker. Sayangnya warna ini kurang identik dan terlalu umum, karena beberapa kampus di Malang juga menggunakan jas almamater dengan warna yang hampir senada, seperti Universitas Merdeka Malang (UNMER) dan Politeknik Malang.
7.    Alumni UM Yang Populer


Bicara tentang alumni UM yang jumlahnya sudah mencapai ratusan ribu, ada sederet nama yang cukup populer baik dari kalangan pejabat, aktivis pendidik hingga selebritis. Sebut saja, Mantan Walikota Malang periode tahun 2003 – 2013, Bapak Peni Suparto, motivator kondang Mario Teguh, Wahyu Nur Hidayat aktivis Indonesia Mengajar, bahkan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Indonesia sekarang, Muhadjir Effendy tercatat pernah menempuh pendidikan sarjananya di UM tahun 1982.
8.    Sarat Cerita Horor


Keberadaan makhluk astral di UM sudah menjadi rahasia umum lintas generasi. Beberapa spot di kampus induk disinyalir sarat dengan cerita horor. Mulai dari penampakan wanita mirip kuntilanak yang kerap menggangu di gedung J9, genangan air di sekitar jalan perpustakaan, hantu muka rata di pertigaan belakang gedung A3, hingga yang paling populer hantu melayang di taman dekat fakultas sastra.
9.    Spot-Spot Yang Cukup Historis

Zaman aku kuliah dulu ada beberapa spot di UM yang cukup laris menjadi tempat nongkrong. Sebut saja cafe putih, di depan kantor pos arah ke asrama, cukup strategis untuk mempertemukan mahasiswa FMIPA, FT, FS, bahkan FE. Ada pula komplek pujasera dan Kopma yang menyediakan alternatif lunch yang lebih variatif. Buat kamu yang butuh tempat berbagi cerita yang menenangkan, ada teras depan perpustakaan yang cukup lapang, dan 2 gazebo di kedua sudut halamannya yang cukup meneduhkan. Dan yang tak kalah mendamaikan adalah deretan bangku panjang di belakang gedung A3, yang menjadi tempat yang mendamaikan untuk berkumpul bahkan hingga larut malam. Sayang, dalam perkembangannya gerbang UM dari arah Jalan Surabaya ditutup di waktu malam, dan akses masuk UM tidak lagi sebebas beberapa tahun lalu. Kalau ditanya spot mana yang paling menarik hingga sekarang? jawabannya tetap: Taman Depan Perpustakaan dunk ...

TRIK PEMASARAN JITU ALA FILM THE JONESES



Meski tak sepopuler film Demi Moore lainnya, film drama berdurasi 1 jam 36 menit yang rilis tahun 2010 ini sedikitnya bisa mewakili kuliah pemasaran stratejik 3 sks dan buku manajemen pemasaran Philip Kotler yang tebalnya mencapai 414 halaman untuk satu jilid. Secara garis besar film The Joneses menceritakan tentang sebuah tim marketing yang terdiri dari 4 orang dan ditempatkan di sebuah komplek perumahan mewah sebagai keluarga fiktif, dengan misi mempengaruhi tetangga sekitar agar lebih konsumtif melalui gaya hidup ala ‘American Dream’ yang mereka pamerkan.
            Terlepas dari kontroversi strategi pemasarannya yang seolah menghalalkan ‘pernikahan fiktif’ dan tidak humanis, film ini bisa memberikan trik jitu untuk mencapai pasar sasaran tanpa harus berjibaku secara langsung dengan pesaing.
1.    Ciptakan Kebutuhan, Penuhi Lalu Puaskan
Pada dasarnya seorang pemasar diberi keterampilan untuk merangsang permintaan produk-produk dari perusahaan. Sayangnya, masih banyak pemasar yang terpaku pada teori lama dimana mereka dibebankan untuk menarik konsumen baru, mempertahankan konsumen lama dengan cara memenuhi dan memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen yang seolah tak putus. Seolah sebagai pemasar kita sangat bergantung pada konsumen.
Hal itu tidaklah salah, setidaknya guru pemasaran sekaliber Philip Kotler akan membenarkannya. Tapi tidakkah itu melelahkan? Konsumen adalah raja, tapi dengan keinginan-keinginan muluk yang ironis dengan permintaan harga. Sebut saja untuk mempertahankan 1 konsumen lama kita harus menahan diri untuk tidak beradu argumentasi tentang cacat produk yang selalu berhasil mereka temukan. Apalagi untuk menarik konsumen baru, dibutuhkan biaya promosi 5 kali lipat lebih besar daripada sekedar melayani konsumen lama. Belum lagi kita harus menghadapi arogansi pemimpin pasar, memutar otak untuk membinasakan pemalsu dan peniru, termasuk mengutak-atik kembali rancangan 4P (product, price, places dan promotion) demi beradaptasi pada daur hidup pasar. Tidakkah kita berpikir untuk melawan arus dengan menempatkan diri sebagai ‘raja’ yang berkuasa ‘menciptakan kebutuhan’ bukan sekedar memenuhinya?
Steve (David Duchvny) yang kebagian memerankan tokoh ayah di film The Joneses, berhasil menyadarkan target pasar akan kebutuhan ‘indoor golf simulator’ yang sebelumnya belum terpikirkan oleh para tetangga untuk memilikinya. Selama ini penghuni komplek perumahan telah cukup terpuaskan dengan lapangan golf virtual yang mengharuskan mereka keluar rumah dan melawan panas terik. Tapi demi melihat bagaimana Steve dengan indoor golf simulatornya yang keren dan membebaskannya berolahraga tanpa berhadapan langsung dengan paparan panas, keinginan membeli itu timbul begitu saja tanpa perlu Steve membujuk ala sales door to door.
Kita belajar pada produk i-ring mobile phone atau gantungan HP yang sempat laris manis di tahun 2004 an awal dengan desain lucu dan lampu kecil yang berpendar-pendar ketika ada panggilan atau sms masuk. Pertanyaan yang muncul kemudian, apakah produk tersebut lahir dari keinginan atau kebutuhan konsumen? Atau pernahkah secara lugas produk tersebut ramai diiklankan di TV atau media cetak? Dua pertanyaan dengan satu jawaban yang sama: tidak. Produk tersebut murni lahir dari kreativitas produsen awal, dan konsumen baru menyadarinya ketika mereka mengunjungi gerai/counter dan mendapati produk tersebut bersanding merapat di dekat HP. Maka terbit begitu saja rasa penasaran konsumen tentang nama dan manfaatnya. Wiraniaga hanya perlu memberikan contoh pemakaian dan dengan sendirinya konsumen digiring pada hasrat untuk memiliki, lalu menularkan hasrat tersebut pada orang di sekitar. Berbekal strategi M2M (Mouth to Moutht) produk ini mulai , dan masyarakat sepakat mengangapnya bagian dari atribut HP yang harus dipenuhi.  Lalu apa perlunya lagi mengiklankannya secara agresif di TV?
Indoor golf simulator atau i-ring mobile phone adalah sebagian dari contoh kebutuhan yang terlambat disadari konsumen. Maka tugas kita sebagai pemasar adalah menemukan kebutuhan tersebut lebih cepat, berusaha memenuhi dan setelahnya barulah berpikir untuk memuaskan. Philip Kotler pernah menegaskan dalam buku Manajemen Pemasaran Edisi Millenium bahwa hal yang paling penting dari konsep pemasaran adalah bagaimana meramalkan kemana konsumen bergerak, dan beradalah di depan mereka.
2.    Menjual ‘Gaya Hidup’ Bukan Produk.
Sering kita jumpai di tengah terik panas seorang sales dengan tas jinjing berkeliling kampung, door to door menawarkan produk perusahaan, yang kadang disambut ramah dan disuguhi teh, tapi seringnya ditolak bahkan sebelum mereka sempat mengeluarkan produk dari dalam tas.
Mengapa terjadi demikian? Pada dasarnya dalam proses pembelian, konsumen tidak suka diintimidasi, lalu dengan secara terpaksa membeli apa yang sejatinya tidak ingin mereka beli. Sekelompok remaja putri akan lebih merasa nyaman berbelanja baju di mall daripada di toko kecil dengan kawalan ketat pramuniaga yang seolah giat bertanya: Cari apa mbak? Dari tadi kok bingung? Mau cari rok atau celana? Kalau celana mau cari bahan apa, ukuran berapa?. Rentetan pertanyaan di atas akan mengurangi tensi semangat mereka untuk memilih. Salah-salah mereka kabur karena malas dengan keagresifan pramuniaga yang seperti memaksa mereka untuk segera menentukan pilihan.
Berhenti terlihat sebagai ‘penjual produk’ yang mengintimidasi. Beralihlah menobatkan diri sebagai pemilik gaya hidup atau trendsetter. Di film The Joneses, Kate Jones (Demi Moore) untuk bisa menjual sepatu olahraga mahal, hanya perlu berlari-lari kecil di sekitar komplek dan membiarkan para tetangga terpukau dengan tampilan alas kakinya. Dia juga tidak pelit mengundang tetangganya ke rumah hanya demi memamerkan alat makannya yang terbuat dari kristal. Di sini Kate Jones secara anggun berusaha mempengaruhi tetangga sekitar untuk ikutan membeli produk yang dia pakai, tanpa harus membujuk, lebih-lebih mengintimidasi ala pramuniaga toko.
Lalu bisakah strategi marketing ala film The Joneses ini kita aplikasikan di kehidupan nyata? Kecuali tentang ‘pernikahan fiktif’ nya yang menyimpang dari firman Tuhan dan kultur, tentu saja strategi ini sah-sah saja dilakukan. Sebagai contoh, kita bisa menempatkan seorang sales sebagai mahasiswi di sebuah kampus ternama dengan gaya hidup yang mengundang decak kagum. Kita bisa membekali mahasiswi tersebut dengan baju, sepatu, tas, aksesories, atau apapun produk perusahaan, lalu membiarkannya membaur dengan mahasiswi lain, tapi tentu saja dengan penampilan yang bernilai jual. Dengan sendirinya ini akan memberi akses pada mahasiswi lain untuk bertanya: Tas sepertimu, belinya dimana? Bahannya bagus.” Dan disitulah umpan bersambut tanpa perlu kita menghabiskan dana untuk membuat iklan di TV atau mengendorse artis dan selebgram agar mempromosikan produk kita di akunnya. Sekedar informasi saja, salah satu penyanyi dangdut dengan follower 4,2 M bersedia menerima tawaran endorse dengan harga 6 juta untuk foto dan 8 juta untuk video, itupun hanya berlaku selama 2 minggu dan setelahnya akan dihapus. Pertanyaanya adalah: apakah kita bisa meraup untung lebih dari 6 juta dalam 2 minggu hanya dengan mengandalkan foto itu artis?
3.     Identifikasi Segmen Lalu Pilih Pasar Sasaran
Dalam hal pemasaran sasaran, perusahaan memulainya dengan membedakan segmen-segmen pasar utama, membidik satu atau dua segmen, lalu mengembangkan produk serta program pemasaran yang dirancang khusus bagi masing-masing segmen. Dasar segmentasi pasar sendiri mempertimbangkan beberapa variabel seperti geografis, demografis, psikografis dan perilaku.
Pemasaran sasaran di film The Joneses dimulai dengan menentukan variabel geografis, yaitu daerah pinggiran kota. Selanjutnya perusahaan membagi masing-masing anggota tim untuk variabel demografis, dimulai dari Steve untuk segmen pria dewasa/ayah, Kate mewakili segmen wanita dewasa/ibu, Mick untuk remaja putra dan Jane untuk remaja putri. Variabel demografis lain yang mereka pertimbangkan adalah kelas sosial atas dengan pendapatan rata-rata USS 100.000 perbulan. Tentu saja sebelumnya perusahaan tersebut diceritakan telah melakukan tahapan survei dan analisis.
Sejatinya, tim marketing yang satu ini cukup sukses pada tahapan segmentasi, kecuali fakta bahwa mereka mengabaikan variabel psikografis pasar sasaran hanya demi mengeruk keuntungan lebih banyak. Sekedar tambahan sinopsis, seorang tetangga mereka yang kompulsif pada akhirnya memilih bunuh diri karena terlalu banyak menanggung hutang akibat pengaruh gaya hidup mereka. Hal ini yang kemudian menyadarkan Steve untuk mengakhiri permainan dengan mengumumkan bahwa mereka bukanlah keluarga yang sempurna, tapi hanya tim marketing yang bergerak karena sebuah kontrak.
Ambil yang positif dari film ini, sekedar memperkaya wawasan kita tentang strategi pemasaran yang mumpuni tanpa mengabaikan unsur kemanusiaan.

Sinopsis Film Belahan Jiwa, Sukses Bikin Kita Bingung

Kalau ada film yang sukses bikin kepalaku pening, ya film Belahan Jiwa. Apalagi film Belahan Jiwa hadir di masa mudaku yang belum...