Jumat, 24 Agustus 2018

7 KARAKTER ‘HOT DADDY’ DI FILM


Yang namanya film ditonton bukan hanya karena alur ceritanya, tapi yang tak kalah penting adalah pilihan pemainnya. Dan kalau ada kategori ‘Hot Daddy’ terbaik, 7 aktor hollywood berikut ini emang pantas menyandang gelar tersebut. Siapa saja mereka?
1. Ryan Philipe – Wish Upon

Dulu inget banget, pas pertama kali nonton film I Know what You Did Last Summer aku nggak seberapa suka dengan lawan main Sarah Michelle Gellar ini. Ganteng sih, tapi Ryan pas itu masih terlihatnya tengil. Nah beda banget, pas doi jadi bokapnya Joey King di film Wish Upon, mendadak aku ngiler dan jadi pengen banget diadopsi. Betapa tidak, cowok kelahiran tahun 1974 yang pernah menikahi artis pirang Reese Witherspoon ini tiba-tiba menjelma menjadi hot daddy dengan pipi ditumbuhi bulu-bulu tipis. Berperan sebagai Jonathan Shannon, ayah dari Clare Shannon (Joey King), Ryan tampil sebagai pengumpul barang bekas yang sabar tapi sedikit pendiam dan menutup diri sejak ditinggal bunuh diri istrinya. Meski begitu, gantengnya jadi makin sempurna aja terkemas apalagi pas dia main xexofon.
2. Channing Tatum – White House Down


Di White House Down, cowok berbody seksi itu digambarkan sebagai duda satu anak yang sebenarnya gagal jadi Paspamres  melalui proses interview. Namun di hari yang sama, gedung putih tiba-tiba diserang teroris, dan John Cale (Channing Tatum) harus berjuang mati-matian untuk menyelamatkan presiden dan Emily Cale putrinya (Joey King). Meskipun jarang berada di sisi putrinya, si papa ganteng ini berhasil membuktikan pada Emily bahwa dia adalah papa hebat yang layak dibanggakan.  Hayo ... siapa yang mau diadopsi Channing Tatum? Kalau aku sih mending jadi istrinya, kan doi udah resmi cerai dari Jenna Dewan. Hehe ...
3. Liam Neeson - Taken

Kalau ada kategori papa paling heroik, Liam Neeson lah orangnya. Betapa tidak, lelaki 66 tahun ini pernah menyelamatkan sebuah pesawat dari aksi pembajakan di film “NON STOP”.  Tapi di film Taken, beliau sebagai mantan agen CIA harus menyelamatkan Kim, putrinya dari sindikat albania. Mau jadi Bill Marcks di film Non Stop ataupun Bryan Mills di film Taken, menurutku pria kelahiran Irlandia yang satu ini emang layak untuk menyandang gelar “Hot Daddy”, apalagi bawaannya kalem, nggak keakehan ngomong, tapi possesif banget.
4. Chris Evans - Gifted

Chris Evans sebenarnya lebih dikenal publik pencinta film sebagai superhero terbitan komik Marvels. Mulai dari menjadi manusia obor di Fantastic Four, hingga puncaknya memerankan karakter Captain Amerika. Namun berbeda halnya saat doi menjadi Franks di film Gifted, film drama yang menempatkan Evans sebagai mekanik kapal yang harus mengasuh keponakannya Marry demi menyelamatkannya dari obsesi berlebih sang nenek. Di film ini sisi melankolis sang superhero berhasil tergali, bagaimana dia memperjuangkan hak asuh Marry dan cara dia menggendong si kecil yang menurutku unik dan menghasilkan siluet yang seksi.
5. Will Smith – The Persuit Of Happyness

Bermain bersama putranya, Jaden Smith, pria keturunan Negro manis yang satu ini berhasil membuat film Persuit of Happyness basah oleh tangisan. Perannya sebagai Chris Gardner yang harus berjuang mati-matian menghidupi anaknya sejak berpisah dari Linda, mantan istrinya benar-benar menguras simpati yang nonton. Apalagi karena film ini kabarnya adalah true story. Adegan yang menurutku paling mengharukan adalah ketika Chris terpaksa mengajak tidur anaknya di dalam toilet kamar mandi yang digedor petugas kebersihan.  Bagaimana dia menenangkan putranya dengan pasang mata yang menahan tangis. Aih ... Om, hot daddy bener sampean kuwi.
6. Tom Cruise – War Of The Worlds

Gantengnya sih udah pasti, tengilnya apalagi. Suami dari Katie Holmes ini memang bisa main di banyak peran, termasuk ketika memerankan tokoh Ray Ferrier, duda yang harus menyelamatkan kedua anaknya Robbie dan Rachel di film War Of The World dari serangan kawanan alien yang mendadak muncul dari tanah. Awalnya sih Ray menjadi papa yang buruk, bahkan Robbie putra sulungnya sama sekali tidak simpatik dan tidak mau memanggilnya ayah. Tapi diakhir cerita, setelah mengalami banyak hal pada akhirnya Ray mendapatkan pelukan hangat dari si sulung setelah berhasil membawa Rachel dengan selamat di hadapan ibunya.
7. Paul Walker – Hours

Tak pernah kuduga sebelumnya, bahwa Hours akan menjadi film terakhir Paul Walker sebelum kemudian pria tampan nan seksi ini menghembuskan nafas terakhirnya karena kecelakaan. Berperan sebagai Nolan, lelaki yang baru ditinggal mati istrinya,  Walker harus menyelamatkan putrinya yang lahir prematur agar tetap bertahan hidup di saat badai Katrina melanda Wilayah Lousiana. Dia harus berlumur darah, lari bolak-balik dengan akurasi waktu yang pas demi menghidupkan genset rumah sakit tempat putrinya dirawat. Aduh, asli dah film ini benar-benar menghadirkan sosok ayah ganteng yang heroik.

FILM 5 CM; GURATAN CINTA DALAM PERSAHABATAN


Jauh sebelum filmnya rilis, aku udah baca novelnya dan kuakui Donny Dirgantoro lebih dari sekedar api meracik kata. Novel garapannya udah kayak wikipedia, banyak banget wawasan baru yang singgah di otak. Novel bersampul hitam yang kuwarisi dari sahabatku (Benny) memang sudah lama kuandaikan untuk rilis sebagai film.
Dan ketika film ini beneran rilis, aku girang banget karena sosok Genta ‘sang leader’ dipercayakan kepada Fedi Nuril. Tapi sedikit mengecewakan saat tahu Raline Shah yang jadi sosok Riani. Aduh ... menurutku dia terlalu cantik, terlalu elegan untuk berada di kerumunan 4 pejantan. Masih menurutku, Si Riani versi Raline Shah juga kurang cerewet, jarang pake kacamata, rambutnya juga nggak pernah dikucir, tidak seperti gambaran Riani di novel. Kalau sosok Zafran, si penyair konyol aku sepakat kalau diperankan si imut Herjunot Ali, tapi sayang rambutnya kurang gondrong, terlalu klimis untuk menjadi seorang penyair gendeng. Si Ian gendut diperankan oleh Igor
vocalis Saykoji , bengkaknya sih udah dapet, tapi tampangnya kurang bokep. Nah yang bikin aku keki, Arial yang datar diperankan oleh Deny Sumargo, sementara Arinda kembarannya diperankan oleh  Pevita Pearce. Hayo ... dimana miripnya?
Bicara secara keseluruhan, aku lebih suka versi novelnya karena kutipannya jauh lebih banyak. Tapi sayang, ending di novel jatuhnya terlalu maksa, mana Genta jadinya ma Citra lagi. Kalau aku sih lebih dukung ending versi filmnya, dimana Genta masih ngejomblo dan pada akhirnya ketemu Arinda yang semakin mateng.
Ohya, buat kamu yang belum pernah baca novel atau bahkan belum nonton filmnya, aku bagikan sinopsisnya. Semua berawal dari persahabatan 5 orang beda karakter yang sepakat untuk menjadi diri mereka sendiri: Genta, Ariyani, Ian , Arial dan Zafran. Karena bosen keseringan ketemu, mereka memutuskan untuk vakum selama 3 bulan dan baru bertemu di tanggal 14 Agustus di Stasiun Senen. Genta sang leader, berencana mengajak 4 sahabatnya mendaki Puncak Mahameru di Kota Malang. Nah, kebetulan si Arinda ikut. Di sinilah kisah cinta segiempat mulai terbentuk.
Genta sudah lama naksir Riani, dan berdasarkan kacamata penonton awam dipikirnya Riani juga naksir Genta. Eh, ternyata meleset. Riani ternyata menyimpan perasaan terdalamnya untuk Zafran, yang terang-terangan naksir Arinda. Yang bikin sisi romantis film ini makin kuat, ternyata si cantik Arinda naksir Genta, hanya Genta dan selalu Genta. Di Ranu Kumbolo, surganya Gunung Semeru segala rasa terungkap dengan kalimat dialog Riani yang bikin pembaca, penonton melongo: “Tapi bukan kamu, Ta yang ada di hati Riani. Dia ... Zafran, Ta.”
Yah ... kalah taruh deh.
Adegan yang paling dramatis dan memaksaku sempat menangis dalam versi novelnya, adalah pas Ian jatuh dan dipikir udah mati. Sementara adegan paling konyol, adalah ketika Zafran dan Ian termakan omongan Genta untuk mendaki tanjakan cinta.  Terlepas dari semuanya, mau novel atau filmnya, 5 CM tetap menjadi hiburan paling menarik, karena di 5 CM kita belajar apa itu berjuang, menjaga cinta, persahabatan, dan bagaimana kita mencintai Indonesia.

OTOMATIS ROMANTIS, FILM NYA WANITA TELAT KAWIN


Film bergenre drama yang satu ini udah belasan kali aku tonton sampai hafal adegan ma dialognya. Anehnya aku nggak pernah bosen. Barangkali karena tokoh utamanya si Nadia (Marsha Timoty) yang dalam kehidupan nyata emang kece berat.
Di film ini, Nadia digambarkan sebagai wanita karier berusia 29 tahun yang telat kawin. Sementara Nabila (Wulan Guritno) kakaknya udah menikah dengan Dave (Tukul Arwana), pemilik peternakan yang kaya raya tapi narsis parah. Sementara adiknya, Nana (Poppy Sovia) juga sudah punya pacar dan kerap memanasinya. Karena itu Ayah dan Ibunya (Tarsan dan Cintami Atmanegara) mendesak Nadia agar segera menikah. Selain karena kesibukannya sebagai pimpinan dari salah satu redaksi majalah wanita, rupanya Nadia belum juga menikah karena percaya dengan kutukan bahwa cewek-cewek di keluarganya akan mendapatkan pasangan yang kurang secara fisik alias jauh dari kesan cakep.
Di kantor Nadia, ada seorang karyawan administrasi baru bernama Bambang, dari Jogya. Bambang (Tora Sudiro) adalah adik semata wayang Trisno (Dwi Sasono) pengangguran yang hobi berjudi dan kerap menuntut balas budi dari Bambang. Bambang sendiri terobsesi ingin menulis untuk majalah yang Nadia pimpin, tapi Nadia dengan tegas menolak karena dianggap materinya kurang cocok. Meski begitu Bambang dipercaya Nadia untuk menjadi model dari majalahnya, meski awalnya Nadia sempat skeptis.
Perasaan simpati Nadia mulai muncul saat Bambang mau memenuhi undangan makan malam dari ayahnya. Lalu berbagai cara pun mulai dilancarkan Nadia untuk mendekati Bambang, termasuk memberi kesempatan Bambang untuk menulis di majalahnya. Nadia juga pernah nekat mencium Bambang, meski dengan polosnya Bambang meminta Nadia untuk beristighfar.
Permasalahan baru muncul takkala Bambang terpaksa menikahi Ratna yang terlanjur hamil oleh Trisno. Hal ini tentu membuat Nadia marah dan menganggap Bambang playboy. Diakhir cerita, fakta pun terkuak dan Trisno mau bertanggung jawab atas kehamilan Ratna. Nadia yang mendengar pengakuan Trisno, langsung girang dan segera mencari Bambang. Melalui pancingan artikel berjudul “Berhubungan dengan atasan sah atau tidak”, Nadia kembali mengirimkan sinyal cintanya untuk Bambang yang langsung disambut Bambang dengan teriakan membelah langit-langit kantor “Alhamdulillah ....!!!”

FILM WISH UPON: 7 PERMINTAAN DIBAYAR DARAH


 Film Wish Upon adalah salah satu film yang dibintangi Joey King yang menurutku keren gila. Bahkan aku sempat berkhayal seandainya aku bisa menemukan kotak segi tujuh seperti yang ditemukan Clare Shannon di film ini, salah satunya akan kugunakan agar mantanku bisa kembali. Ceileh ...
Film ini awalnya bercerita tentang remaja bernama Clare Shannon (Joey King) yang hidup berdua dengan sang ayah, setelah ibunya bunuh diri. Sang ayah yang berprofesi sebagai pengumpul barang bekas, membuat Clare merasa minder di sekolah lebih-lebih karena dia sering dibully Darcie Chapman.
Pada suatu hari Clare menemukan sebuah kotak yang tertulis bisa mengabulkan 7 permintaan, dengan selarik tulisan cina yang belum bisa Clare terjemahkan. Namun tanpa sengaja dan tanpa ada rasa percaya, Clare mengajukan permintaan agar tubuh Darcie Chapman musuhnya membusuk, dan anehnya di hari yang sama tubuh Darcie pun membusuk tanpa sebab hingga teman-temannya merasa jijik. Malangnya, anjing kesayangan Clare pun tewas di hari yang sama.
Clare mulai percaya dengan keajaiban kotak tersebut. Maka satu persatu permintaan pun dia ajukan, mulai dari mendapatkan warisan penuh dari pamannya, ditaksir cowok paling keren di sekolahnya, menjadi siswa yang paling populer, ayahnya menjadi keren dan tidak memalukan lagi, dan untuk permintaan keenam dia gunakan agar ibunya bisa kembali hidup meski hanya untuk sesaat. Namun sayang, 6 permintaan yang dia ajukan ternyata harus ditebus dengan nyawa, mulai dari anjing, paman, tetangga, seorang penerjemah, bahkan sahabatnya, Meredith yang sebelumnya sudah menyarankan agar Clare membuang kotak tersebut. Sayang Clare terlalu tamak, dia takut kehilangan apa yang sudah terlanjur dimilikinya.
Pada akhirnya, Clare mengajukan permintaan ketujuh agar kehidupannya bisa kembali sebelum kotak itu ditemukan. Dia pun memberikan kotak itu kepada Ryan, teman lelaki keturunan Cina yang diam-diam ditaksirnya dalam kehidupan multidimensi. Clare meminta agar kotak itu dikubur saja supaya tidak lagi menelan korban. Namun sebelum ajakan kencannya bersambut, sebuah mobil menabrak Clare dan dia pun tewas di tempat.
Film yang rilis tahun 2017 ini menurutku agak mirip Final Destination, jadi kita sebagai penonton dipaksa menebak-nebak siapa korban berikutnya. Pesan moral yang bisa kita petik dari film ini, jadi orang jangan tamak, jangan egois. Kalau memang punya kesempatan untuk mengajukan 7 permintaan, kita bisa gunakan salah satunya mungkin untuk kebaikan seluruh umat, bukan mengejar keinginan pribadi yang tidak akan pernah selesai.
Ditulis oleh Barbara Marshall, disutradarai John R Leonetti, film ini sebenarnya sempat masuk black list.  Selain Joey King, ada Ki Hong Lee , Sydney Park, Shannon Purser dan si “Hot Daddy” Ryan Phillippe. Deh ... jadi pengen main di film ini.

Minggu, 18 Maret 2018

MODUL UJIAN PKB GURU IPS 1


Barangkali ada yang belum ikut ujian Pre Test ato ada yang belum lolos dan harus Post Test PKB IPS SMP, mungkin bisa sedikit terbantu dengan modul-modul ini. silahkan cocokkan dulu dengan KK yang belum lulus.
MODUL A
MODUL B
MODUL C
MODUL D
MODUL E
 

PERANGKAT BAHASA MADURA KTSP KELAS VIII


Sebelum KTSP tuntas berlalu
Sebelum Bahasa Madura lesap hanya jadi sejarah
aku mau bagi perangkat pembelajarannya di sini
barangkali ada yang membutuhkan
RPP
DOWNLOAD
PERANGKAT
DOWNLOAD
PROMES
DOWNLOAD
Semoga bermanfaat yah ...

MATERI PELATIHAN K13 EDISI REV 2017 PRAKARYA



pas bulan puasa kemarin, aku ikut pelatihan selama K13 selama seminggu, dan ini dia oleh-olehnya:
MATERI
 Download
CONTOH RPP
Download
 

Minggu, 11 Maret 2018

NOKIA 2 TAMPIL GAYA HEMAT DAYA









Namaku Ima, sehari-hari bekerja sebagai GTT (Guru Tidak Tetap) di salah satu SMP Negeri. Pulang sekolah hingga menjelang 1/3 malam pertama aku masih disibukkan dengan menjadi tutor bimbel dan guru privat. Boleh dibilang aku ini wanita karier yang luar biasa sibuk. Soal penghasilan jangan ditanya, begh …. PAS-PASAN. Pas …ti kurang, pas…ti habis, tapi pas…ti hidup kok.
            Yang namanya guru wajib punya otak canggih. Tidak sekedar pandai bertanya, tapi harus fasih pula menjawab. Apalagi murid-murid Zaman Now, suka banget mancing guru dengan pertanyaan yang lumayan mendidihkan kepala, yang tidak bisa dijawab hanya dengan mengandalkan buku. Karena itulah aku bergantung banget dengan yang namanya “Mas Google”. Di saat murid-muridku dengan semangat jibaku tai nya menggerus isi otakku dengan pertanyaan berat, maka mulailah tanganku meraba ponsel android negeri tirai bambuku dan menyapa layanan Chrome.
Mulailah ku mengetik di papan pencarian: Negara yang memiliki bendera ter …Yah, yah …yah sial. Belum sempat tanya berlanjut ponsel androidku kembali mati. Waduh… bisa berantakan ini urusan. Mana charger tak ada, power bank pun lupa punya.
Kejadian tak menyenangkan seperti ini sudah puluhan kali kualami. Tapi aku sadar, mana ada sih smartphone android yang batere nya bisa tahan lama? Apalagi kalau udah kebanyakan aplikasi. Masalahnya, di balik penampilan ramping ponselku ada puluhan aplikasi medsos yang menurutku eman-eman sayang kalau harus dihapus. Apa kabar eksistensiku di IG kelak? Statusku di belasan grup whatsapp bagaimana? Bisa-bisa aku terlupakan dari sejarah pertemanan.
Maka beginilah nasib smartphone tirai bambuku yang hanya bertahan di hitungan jam. Kalau sudah seperti ini, aku hanya bisa meratap mengingat kembali kenangan lamaku dengan HP Nokia jadul 8250. Zaman kuliah dulu dengan batere sisa 1 strip saja aku masih bisa menelpon pacarku hingga berjam-jam. Demam sih demam tuh HP jadul, tapi baterenya masih selalu nyisa. Saying Nokia tiba-tiba melesap pergi tanpa kabar seiring membanjirnya produk smartphone merek negeri timur yang kaya dengan aplikasi medsos. Lalu terlontarlah kalimat pengandaian dari bibir ibuku yang setia dengan merek lama: Andai Nokia juga ngeluarin smartphone …. Diam-diam aku mengamininya.

Pucuk dicinta, eh si ulam mendadak tiba. Seolah HMD Global Indonesia menguping khayalan Ibuku. Di hari Kamis, 11 Januari 2018 lalu tanpa sengaja aku membaca artikel yang mengabarkan bahwa mereka resmi meliris produk smartphone dengan nilai yang dimiliki oleh seri ponsel Nokia pada umumnya. Ya, apalagi kalau bukan “Nokia sebagai HP tangguh yang punya daya super”. Ohya lupa kuperkenalkan, namanya Nokia 2.
Kulihat tampilannya sekilas hampir sama dengan smartphone lamaku, hanya sedikit lebih gendut, tapi tetap muat kok di saku celana. Dibandrol dengan harga RP 1499.000, sedikit lebih murah dari kakak-kakak seperguruannya seperti Nokia 3, 5 dan 6. Dan seolah menjawab kegelisahanku, ponsel pintar ini juga didukung dengan oleh batere 4100 mAH yang dapat bertahan 2 hari dalam sekali pengisian penuh. Wow … jarang-jarang lo ada smartphone low end yang kapasitas baterenya memuncak seperti itu.
Tampilan sederhana Nokia 2 juga dilengkapi tombol navigasi digital tapi tidak ada pemindai sidik jari. Buat kamu yang ingin melindungi data ponselmu, masih ada kok belasan pengunci aplikasi lain yang bisa kamu temukan di play store. Dengan layar sentuh LCD LTPS seluas 5 inci dan resolusi 1280 x 720 piksel, dijamin mata nggak perlu micing-micing deh, karena sudah pasti terang, tajam dan jernih. Apalagi ada kaca anti gores Gorilla Glass, maka selamatlah layar ponselmu dari cakaran beruang. Eitt … belum selesai, kabarnya cangkang Nokia 2 terbuat dari satu blok alumunium utuh. Kalau kesenggol jatuh, lecetnya juga nggak perlu masuk UGD.

Jeroan Nokia 2 juga dibekali prosesor QualComm Snapdragon 212 dengan ram 1 GB, nggak sekeren QualComm Snapdragon 410 sih yang bisa mendukung 64-BIT dan punya AES. Untuk memori internal hanya ada 8 GB tapi masih bisa kok diekspansi hingga 128 GB dengan kartu Micro SD, jadi buat kamu yang ingin menyimpan lebih banyak foto, video dan file masih bisa tertolong. Nokia 2 juga didukung oleh dual sim card dengan 4G LTE, jadi kamu masih punya cadangan kalau sekali-kali paketan habis. Nah, buat kalian yang suka cekrak-cekrek Nokia 2 disempurnakan dengan kamera utama 8 MP dan kamera depan 5 MP. Produk ini juga akan terus mengalami penyempurnaan agar nantinya menjadi ponsel android yang lengkap, sempurna, aman dan kekinian. Yah,lakukan lebih banyak hal dengan Nokia 2.
Tapi balik lagi ke jargon lama Nokia: “Teknologi Yang Mengerti Anda”, secanggih-canggihnya ponsel, harus bisa mudah digunakan oleh semua kalangan, termasuk mereka bapak-bapak, ibu-ibu yang sudah berumur tapi masih ingin tampil eksis di medsos. Seperti ibuku, hehe … Nokia 2 adalah jawaban dari pengandaian mereka. Sementara bagiku pribadi sangat bersyukur karena ponsel ini dilengkapi oleh fitur google assistant, yang memudahkanku melakukan pencarian untuk pertanyaan murid-murid yang kejar deadline.

Nah, buat kamu yang tertarik mau ganti ponsel, Nokia 2 adalah pilihan paling tangguh yang bisa kamu andelin. Datangi segera gerai HP terdekat. Perlu direnungkan memilih ponsel itu udah kayak milih pacar. Mau cari yang sederhana tapi tahan lama, atau mau cari yang canggih tapi nyusahin? Nokia 2, tampil gaya, hemat daya, murah di biaya.

#NokiakinidenganAndroid

Rabu, 14 Februari 2018

Aku Nggak Nganggur Kok!



            Mereka bilang aku pengangguran, hanya karena tak pernah melihatku keluar rumah mengenakan seragam, tidak berburu waktu mengejar angkot di pagi buta, tidak berbasah keringat sepulang kerja dan lupa bersorak di tanggal muda. Lah, untuk apa aku harus melakukan semua itu, jika masih ada yang bisa kukerjakan dari rumah dan menghasilkan uang?

            Lagi-lagi minggu ini, ada seorang pemuda rupawan dari kampung seberang berniat menarikku ke pelaminan, Taka namanya. Kadung aku bersorak, melukis gaun pengantin dalam  kanvas khayalan. Maklum saja usiaku sudah genap 3 dasa. Tapi sial, kembali Taka harus menjumpai Eno, Vela dan Ajeng, tetangga sepantaran yang kompak mendakwaku sebagai pengangguran. Lalu berpalinglah dengan segera Si Taka tanpa sempat mampir di teras rumahku. Yah, dia pikir aku bukan sekutu hidup yang mumpuni meringankan beban tanggungan nafkah suami nantinya. Lah, Si Taka ini sebenarnya mau mencari pasangan tulang rusuk apa tulang punggung sih?
            Belum selesai dengan fitnah itu, kembali mereka sesumbar menyinggung soal bagaimana aku berpakaian yang konon lebih mirip dengan orang pakai mukena. Lalu dengan tegasnya mereka bersahut komentar di salah satu laman media sosial, menegaskan bahwa model pakaian yang “begini ini” yang membuatku gagal diterima bekerja di kantoran. Lah, memang aku ngelamar?        
            Lulus kuliah 4 tahun lalu, ibu langsung mendaulatku meneruskan usaha warung kelontongnya. Ayahku sepakat, dan dua kakak lelakiku kompak mengiyakan mengingat kondisi kesehatan ibu yang tak memungkinkan untuk duduk bangun melayani pembeli. Aku pribadi pun tak keberatan menanggalkan impianku untuk bekerja di luar rumah. Toh, jika mau aku masih bisa menyebut warung berukuran 4 X 3 meter ini sebagai kantor, bedanya di sini aku tak perlu berseragam dan bersepatu ala Eno, Vela dan Ajeng. Lah, dalam kamus KBBI dijelaskan bahwa definisi bekerja adalah sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah. Tidak ada ketentuan mengenai seragam dan sepatu, kan?
            “Kalau kamu cuma duduk di warung seharian, mana tahu kamu dunia luar?” cibir Vela dengan bahu bergidik ngeri tiap kali membeli koyo Salonpas di warungku.
            Lalu menyambung di belakangnya, Ajeng yang mengantri membeli obat pening. “Ya, Ta. Cobalah cari kerjaan di luar. Jangan malas-malasan saja di rumah. Kasihan orang tuamu.”
            Malas-malasan? Kasihan orang tua? Lah, kan mereka juga yang nyuruh aku jaga warung?
            Dan kalimat berikutnya dari Eno nyaris membuatku ingin meluluskan bisikan setan untuk membuat ketiganya celaka. “Tapi, Ta kalau mau cari kerja itu baju mukena taruh dulu! Mana ada perusahaan yang mau terima karyawan yang gaya berpakaiannya mirip istri teroris?”


            Oh … buru-buru aku istighfar mengelus dada. Lalu dengan sekali menarik nafas, aku kumpulkan keberanian untuk angkat bicara, hitung-hitung membela harga diri yang lama terinjak, meski sedianya aku takut ini akan menjadi semacam riya’.
            “Aku nggak nganggur kok. Aku bekerja.”
            “Bekerja apaan? Jaga warung? Mmmm …” bibir Vela kembali menipis.
            “Dua tahun ini aku jadi blogger. Makanya aku sering bawa lap top ke warung.”
            Eno, Vela dan Ajeng beradu pandang satu sama lain.
            “Blogger? Tapi itu kan pekerjaan sampingan, paruh waktu, Dita.” Kejar Eno.
            “Siapa bilang? Bagiku itu pekerjaan utama, dan aku mengerjakannya di sepanjang waktuku.” Tukasku cepat, mencegah cela Eno berlanjut.
            Kembali kutarik nafas, kali ini lebih dalam. “Dengan bekerja menjadi blogger aku juga tidak perlu menanggalkan baju mukenaku ini.”
            “Tapi berapa sih gaji blogger? Eh, salah. Kok gaji sih? Mana pernah ya blogger gajian?”
            “Pernah, malah bisa lebih sering tergantung seberapa kuat mata dan jari kita berjibaku dengan layar dan keyboard lap top. Aku bergabung di Google Adsense, dan dibayar per klik untuk iklan yang dipasang. Alhamdulillah lumayan, harga CPC nya $0,07. Dan tiap $ 100 sudah bisa gajian. Jadi gajiannya nggak perlu nunggu tanggal muda.”
            “Memang apa yang kamu tulis di blog mu? Anjuran untuk berhijab apa berjihad? Di zaman now begini, mana ada yang mau baca artikel yang seperti itu?” Vela menyeringai.
            “Ada, malah banyak. Lebih-lebih di zaman now, di saat semua orang mudah masuk angin, pening, diare karena tekanan hidup dan tuntutan pekerjaan. Mereka pada akhirnya membutuhkan ketenangan, kedamaian yang hanya bisa mereka dapatkan dengan menambah keintiman dengan Sang Pencipta. Makanya nggak jarang manusia super di kantoran, yang di sela waktu kerjanya suka browsing soal agama.”
            Kembalinya ketiganya saling beradu pandang, seperti bingung mencari kalimat untuk kembali melumpuhkan kepercayaan diri yang baru saja kubangun.
            Pada akhirnya, Vela mendahului mengeluarkan uang 1000 perak untuk salonpas yang rutin dibelinya sepulang kerja. “Aku duluan, ya. “ pamitnya.
            “Iya, Vela. Makasih.” Kusambut kalimat pamitnya dengan anggukan kecil. “Ohya Jeng, jadi beli apa? Bodrex, Inza, Paramex …”
            Atau ke-3 nya mau ditelan sekalian?
            “Panadol saja.” Jawab Ajeng sambil meremas kepalanya yang berat.
            Terakhir Si Eno yang malu-malu mengeluarkan selembar uang bergambar Imam Bonjol kepadaku.
            “Sama yang kemarin Diapetnya.”
            “Masih diare, No?”
            “Ehm … he’eh.”

            Aku tersenyum mengangguk, meski sedianya aku gagal melatenkan kegelianku. Hidup mereka sendiri saja sudah susah, masih sempat aja ngurusin nasib orang.
            


           
           

Sinopsis Film Belahan Jiwa, Sukses Bikin Kita Bingung

Kalau ada film yang sukses bikin kepalaku pening, ya film Belahan Jiwa. Apalagi film Belahan Jiwa hadir di masa mudaku yang belum...